• amazing shot

31 Des 2014

Playboy? What the hell is that?

Leave a Comment
 

"Playboy".
Kata ini agaknya sudah tidak asing lagi dalam dunia percintaan. Mungkin, bagi sebagian lelaki mengartikan kata ini sebagai "permusuhan" (khususnya yang jomblo)--you know lah what I mean.. atau bahkan sebagiannya memandang sebagai "persahabatan"--come on man, we are created for this, aren't we? . Berbeda tentunya dengan kaum hawa, dominan dari mereka memang menghambakan diri pada kutub "permusuhan", tetapi tidak pada perilaku tampaknya (overt behavior). Tetap saja sebagian besar dari mereka terjatuh pada area yang bersahabat dengan playboy, bahkan dalam konteks sebagai "korban" sekalipun!

Well, dari penjelasan diatas, boleh jadi hanya dua kategori lelaki di dunia ini, yaitu, "kalo gak Jomblo ya Playboy"--lekong gak termasuk ya, itu alien . Mungkin playboy yang diartikan banyak orang sekarang adalah Lelaki yang tidak baik, bejat, dan suka mempermainkan wanita. Mudah berpindah kelain hati, "habis manis sampah dibuang", memuja kesempurnaan, dan semacamnya. Wajar tidak ada tempat lagi bagi penganut aliran ini, untuk mendapatkan predikat baik sebagai lelaki yang seharusnya. Namun, pemahaman tersebut sangat klise, Playboy tidaklah serendah itu guys! --ayok bangkit playboys, aku dipihakmu..

Begini penjelasannya, Playboy secara etimologi berasal dari Kata "Play" dan "Boy". Play berarti; bermain-main, mengambil untung dari, dan memainkan, sebagai nomina juga berarti; permainan, drama, hubungan yang longgar, dll. Kemudian, Boy berarti; pria, anak laki-laki, dan pelayan. Jadi Playboy merupakan laki-laki atau pria yang senang bermain-main, atau pria yang bermain untuk kesenangan bagi dirinya. Merujuk pada arti nomina Playboy juga dapat dipahami sebagai bentuk hubungan yang tidak serius, penuh dengan cerita karangan dan dapat berarti sebagai hubungan yang longgar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, playboy merupakan seorang lelaki yang berorientasi pada kesenangan dan permainan untuk kepuasan dirinya. Sejatinya dalam permainan tentunya harus dengan teman bermain, dalam hal ini adalah wanita. Hubungan yang terjadi dalam permainan itu bersifat longgar seperti permainan pada umumnya. Nah, tujuannya jelas, demi kepuasan, kepuasan yang dimaksud "katanya" berasal dari pengalaman tentang kehebatan bermain "Cinta" dalam hubungan yang tidak mengikat--Jadi Playboy akan bilang, "it just a game, so whats wrong?".
Baiklah, sebelum kita menjelaskan dimana letak masalahnya. Apa sih yang membuat Playboy mempermainkan Cinta?
Marvin Zuckerman (Professor Emeritus of Psychology University of Delaware-USA) memaparkan bahwa pada hakikatnya setiap manusia memiliki sesuatu yang mendasari perilaku (trait) mereka. Dalam pandangan terbatas, trait tersebut menurut Zuckerman disebut dengan Sensation-Seeking, yaitu kebutuhan akan sensasi-sensasi yang baru, luar biasa dan kompleks, serta kesediaan untuk mengambil resiko, baik fisik, sosial, hukum maupun finansial, untuk memperoleh suatu pengalaman. Seperti halnya dengan playboy, dalam sekuel cintanya, alih-alih cinta sebagai permainan malah menjadi candu tersendiri dalam hidupnya. Sensasi-sensasi mendekati, mengejar, dan membangun hubungan menjadi pengalaman nan kaya akan roman dan makna.

Pengalaman-pengalaman "Cinta" tersebut sangat berhubungan dengan perasaan (khususnya emosi). Oleh karena itu, tidak salah kalau istilah playboy juga dinisbatkan kepada "Seni Mengolah Perasaan", baik perasaannya sendiri maupun teman sepermainannya. Wanita itu adalah makhluk yang berpegang teguh pada perasaan. Itulah mengapa, banyak wanita yang klepek-klepek pada pesona seorang playboy yang dengan hebat mengaduk-aduk perasaannya. Namun ingat, kembali lagi kepada esensi sebenarnya, segala keahlian ini digunakan oleh playboy hanya untuk bermain-main saja, berbeda dengan wanita. Disini awal mula kesalahan itu terjadi.
Lho kok bisa menjadi masalah?, bukankah keduanya menjadi saling mengisi, seorang lelaki dengan keahlian cinta dengan seorang wanita penikmat cinta? Seharusnya mereka menjadi pasangan yang ideal bukan?
Playboy pada dasarnya mencari sensasi (sensation-seeking) untuk mendapatkan kegairahan dan meningkatkan rangsangan, hingga kepuasannya semakin optimal, makanya mereka cenderung mencari stimulus baru dan lebih luar biasa dari sebelumnya, dalam hal ini wanita lain yang dianggapnya cukup sensasional (baca: bohay ). Untuk lebih jelasnya, Sensation-Seeking terdiri dari 4 komponen penting, yaitu :
  1. Thrill and Adventure Seeking--keinginan untuk terlibat dalam aktifitas fisik dan beresiko, penuh tantangan, dan berbahaya.
  2. Experience Seeking--pencarian pengalaman baru dengan pikiran dan perasaan, aktivitas seni yang menolak aspek normatif, surprising, dan pencarian informasi dengan suasana baru.
  3. Disinhibition--melakukan perilaku yang bertentangan dan menyimpang dari kebiasaan umum, mengarah kepada kebebasan mutlak, melakukan sesuatu diluar batas.
  4. Boredom Susceptibility--bosan dengan kegiatan berulang, kegiatan yang mudah ditebak, menolak hal yang kaku dan konvensional.
Dengan melihat keempat komponen diatas tentunya kita jadi mengerti mengapa playboy tidak pernah dapat bertahan pada sebuah hubungan. Kasus playboy ini setidaknya berada pada 3 komponen, diantaranya; Boredom Susceptibility, dalam suatu hubungan yang intens, sang playboy lama-kelamaan akan mendapati pola emosi dan perilaku yang sama dari lawan bermain (baca: teman perempuan), oleh karenanya, kebosanan dan kehilangan gairah menyerang hubungan mereka. e.g. harus ngasih kabar ke temen cewek, harus perhatian, harus mengantar dan menjemput ke tempat kerja, salon, dll.

Kemudian pada aspek Disinhibition, aspek kebebasan menjadi cukup penting setelah mereka merasa bosan, tentu saja berpikir untuk mendapatkan teman wanita lainnya bukanlah pilihan yang tidak mungkin. Selanjutnya pada aspek Experience Seeking, dimana pengalaman-pengalaman membangun hubungan dengan perempuan yang banyak menjadi kesenangan tersendiri, lain wanita tentunya lain karakternya, dan bagaimana menakhlukannya? Ini lah yang menjadi objek utama playboy.

Demikianlah mengapa playboy seolah mempermainkan wanita, pada dasarnya playboy tidak pernah membangun hubungan yang serius, e.g. Pacaran, menjadi sepasang Kekasih. Playboy yang sesungguhnya akan selalu single dan memiliki banyak teman wanita. Bukan wanita yang dipermainkannya, namun "Cinta"nya. Apabila ada lelaki dengan pacar yang banyak, itu bukan playboy, tapi "B*jing*n".
 
Kembali lagi pada pertanyaan "it just a game, so whats wrong?"
NOTHING!!
Read More...

2 Apr 2012

Fenomena Guru Saat Ini

Leave a Comment
Anggota Kelompok:
09-013 Dwika Septian Ihsan
10-024 Nadya Putri Delwis
10-036 Melva Safira

"Pahlawan tanpa tanda jasa"
Apa yang terlintas di fikiran kita saat membaca statement tersebut..??
:)
Yup, dengan tersenyum kita akan menjawab "Guru", kita akan seketika teringat akan sosok seorang guru, seorang yang keras tapi penyayang (berdasarkan pengalaman pribadi), disiplin, hangat, ceria, humoris, kaku, merasa benar juga ada, metodologis, killer dan berbagai macam sosok guru yang terlintas di fikiran kita tergantung paradigma masing-masing.
Sebenarnya kami agak bingung dengan slogan seperti itu, sejak kapan sebutan itu melekat pada citra seorang guru. Penuh ambiguitas, dan sayangnya kami (maksudnya saya secara pribadi) mencernanya dengan negatif. Tapi ya sudah lah, kami bukan ingin mengupas hal tersebut.
Mungkin dari berbagai kata mata pemikiran kita masing-masing, terdapat banyak mungkin perbedaan dalam menginterpretasikan guru. 

Kenapa sosok guru yang dulu menjadi tidak tampak saat ini? Guru tidak lagi jadi panutan dan lebih ke pada seorang pelayan?

                Kalau kita membalik buku sejarah beberapa tahun kebelakang, tergambarlah sosok guru yang jauh dari fenomena seperti sekarang ini. Guru dulu lebih cenderung seperti seorang relawan dalam memberantas kebodohan dan memperbaiki akhlak masyarakat di sekitarnya. Guru dulu sangat dipandang, memiliki kharismatik di masyarakat, dan merupakan tokoh cendekia, salah satu agen perubahan bagi lingkungannya. Guru tidak hanya sebagai pendidik, tapi juga sebagai seorang motivator yang selalu mem-brainstorming pemikiran-pemikiran peserta didiknya bahkan masyarakat pada umumnya.

                Sangat ironis memang dibandingkan saat ini. Guru tidak begitu dihargai lagi sebagai bagian dari cendekiawan masyarakat, tapi lebih kepada seragam yang dia gunakan. Sehingga pemikiran saat ini membelok dari kesadaran akan pendidikan menjadi pengharapan akan prestasi dan status sosial. Sejalan dengan itu tuntutan dari ide-ide ideal dari pemerintah (Depdiknas)—yang bermunculan hampir bersamaan; seperti halnya dulu ada PAKEM, Pembelajaran Portofolio, Kontekstual, dan Pembelajaran Model Quantum, menciptakan nuansa “kebingungan” di kalangan guru, sehingga secara tidak langsung menciptakan kejenuhan dan banyak sedikit akan berimbas kepada motivasi guru terkait kesadaran akan pendidikan. Belum lagi berbagai macam kurikulum yang coba-coba dan selalu berubah-ubah dalam rentang waktu yang singkat.

                Menjadi tenaga pengajar yang kompeten memang menjadi harapan saat ini. Pemerintah pun melakukan berbagai intensif, salah satunya adalah sertifikasi guru. Dengan intensif kenaikan gaji 100% bahkan lebih diharapkan guru menjadi semakin kompeten dan bergairah dalam menjalankan tugas. Akan tetapi hal ini malah mendoktrin timbulnya dua motif; motif ekonomi dan motif psikologis. Motif ekonomi menyebabkan guru berorientasi kepada gaji yang didapat ditambah adanya jaminan hidup. Dan motif psikologis yang mengajari guru berorientasi akan prestasi dan jabatan dalam internal institusi. Guru memang mengalami peningkatan dalam presatasi secara administratif, tapi juga menciptakan paradigma baru—menjadi guru (PNS) dapat menjamin kehidupan anak dan masa tua, motif-motif ini lah sebagai pemicu kompetisi berprestasi, tapi sayang bukan sebagai relawan yang mendedikasikan prestasinya untuk pendidikan, tapi terlebih kepada jabatan, status yang tinggi, dan pemenuhan kebutuhan hidup apalagi dimasa konsumtif seperti saat ini.

Sehingga muncul lah guru-guru yang terlalu menuntut prestasi kepada siswanya, dari pada membuat mereka mengerti akan pelajaran tersebut. Tak jarang juga banyak guru yang mahir dalam konsep tapi bingung dalam praktis, pada student centered learning misalnya, jika guru kurang bisa mengontrol proses pembelajaran, tak jarang kemungkinan siswa menjadi kurang menghargai guru. Terkadang guru memang agak ketinggalan jauh tentang perkembangan teknologi yang semakin modern, dibandingkan siswanya sendiri, sehingga siswa yang cenderung lebih upgrade merasa kurang motivasi untuk belajar. Hal ini banyak terjadi pada guru yang sudah agak berumur dan susah untuk di rubah mindset-nya.

Sebenarnya masalah terbesar adalah kurangnya kesadaran akan image seorang guru baik dari masyarakat maupun dari guru itu sendiri. Menjadi guru merupakan pekerjaan sepele bagi masyarakat saat ini, kalau dulu guru menjadi panutan, sekarang tidak begitu dipandang. Sebagai pemikir dalam masyarakat, guru mulai tidak begitu diperhitungkan. Kurangnya kesadaran ini menuntut professionalitas guru bergeser menjadi pelayan masyarakat. Sehingga tidak jarang banyak kasus pengaduan tindak kekerasan guru terhadap siswa menjadi hal yang sudah biasa, dan dirasa perlu bagi masyarakat agar guru tidak semena-mena terhadap anaknya. Kalau kita flashback kepada kenyataan guru di masa lalu, orang tua sangat mempercayakan anak mereka sepenuhnya kepada guru. Guru lah tempat anaknya belajar berperilaku dan berfikir, menjadi orang yang baik di masyarakat. Metode punishment yang dilakukan oleh sang guru malah mendapat dukungan dari orang tua. Akan tetapi dulu memang kebanyakan guru memiliki kredibilitas dalam mendidik siswa dengan etika yang baik.

Tuntutan modernisasi juga sangat mempengaruhi, apalagi indonesia yang sarat akan pengaruh budaya luar, baik timur maupun barat dan berbagai trend masa kini. Budaya barat yang banyak mengajarkan individualisme, menjadikan anak-anak bersikap mandiri, memiliki prinsip dan setting pemikiran sendiri. Budaya timur yang kaya akan aturan, norma, dan etika yang mengajarkan cara bersikap yang baik dalam kebersamaan. Dan trend yang mengajari lifestyle, mode, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menuntut kita—tidak hanya guru tapi juga masyarakat, agar dapat melihat dengan kaca mata positif agar tuntutan modernisasi tidak merugikan terlebih dalam ranah pendidikan.
Read More...

11 Mar 2012

Pedagogi Pertemuan ke Dua

Leave a Comment
05 Maret 2012
Seni dan Ilmu Mengajar



Dimanapun dan kapanpun seseorang dapat belajar, belajar yang paling sering kita lakukan dalam perjalanan kehidupan ini adalah belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Seperti salah satu falsafah hidup Suku Minang, --terobsesi dengan kebudayaan sendiri :) :
Alam takambang jadi Guru*
Jika diatas kita menyinggung bagaimana belajar, akan ada subjek pembelajaran dan objek yang akan di pelajari pastinya. Subjek pembelajaran adalah para peserta didik (siswa), objek yang dipelajari adalah bahan ajar yang akan di serap pengetahuannya oleh siswa dan guru sebagai pembimbingnya.

Pada pertemuan ke dua kemarin di kelas Pedagogi, secara tidak langsung melalui pengalaman yang saya dan teman-teman ikut serta di dalamnya, disana telah tercipta suasana belajar, bagaimana dan seperti apa seni dan ilmu mengajar itu.
Seni itu adalah suatu yang diciptakan, kreatifitas, yang memiliki nilai keindahan. Jadi seni mengajar itu kreatifitas seorang tenaga pengajar (guru) dalam menyajikan bahan ajar pada situasi dan media tertentu, seni ini lebih kepada gaya mengajar seorang guru. Sedangkan ilmu mengajar lebih kepada pengetahuan teoritis (ilmiah), yang harus dikuasai oleh guru dalam menyampaikan bahan ajar. Jika ilmu mengajar ini membekali guru dalam aspek ilmiah tentang pengajaran, sistematika penyajian materi, dan etika dalam berkomunikasi antara siswa dengan guru. Seni mengajar merupakan cara guru menjadi fasilitator dan pemandu yang membuat pembelajaran siswa menjadi lebih mudah dan efektif, dalam hal ini diharapkan siswa dapat berperan aktif.

Pada pembelajaran e-learning kemarin, tampak sangat jelas bagaimana dosen Pengampu Pedagogi mencoba mengaplikasikan kedua hal diatas, dosen tidak hanya menjelaskan tentang sistematis penyajian bahan ajar, mengatur interaksi, dan pemilihan media ajar sebagaimana yang dimaksud dalam Ilmu mengajar. Akan tetapi lebih dari itu. Jika Ilmu terkesan birokratis, dosen dalam seni mengajar mencoba membuka keleluasaan dalam pembelajaran, membiarkan siswa berberan aktif, berganti posisi dengan siswa dalam batas etika, ikut serta terjun berinteraksi dan memotivasi siswa dengan statement "mari kita sama-sama belajar e-learning..", --aku suka bagian ini :D, yang lebih kepada mengajak bukan mengajari.

Jadi pertanyaannya sekarang mengajar itu lebih baik menggunakan ilmu atau seni..?
Apakah bisa kita menggunakan hanya salah satu dari padanya..?

Kegiatan pembelajaran itu sebenarnya adalah kombinasi dari keduanya, Seorang guru diharapkan dapat mentransformasikan pengetahuan untuk menghasilkan atau menjadi produsen aktif akan pengetahuan dan ide-ide baru. Jika seorang guru tidak memiliki seni, maka  suasana kelas akan pasif, bisa dipastikan tidak adanya motivasi pada siswa, tentunya tujuan dari pembelajaran tidak akan tercapai. Sebaliknya jika tidak memiliki ilmu akan lebih parah lagi, akan muncul guru-guru dengan kelakar dan guyonan yang wahhh, tanpa memiliki strategi pengajaran yang baik.

Jadi jika harus ada pertanyaan, bisakah hanya menggunakan seni atau ilmu saja..?
mari kita renungkan lagi bersama...
:D

_______________________________
*artinya : Apapun di penjuru alam ini dapat kita jadikan Guru
 

Referensi:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi,  Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta.
Read More...